sponsor links

Fitness pro’s deluxe form kit
Read this book
www.fitnessbusinessforms.com

Fat Loss Action Blueprint
See To Believe
www.fatlossactionblueprint.com/

Marketing Secrets Of Successful Nail Technicians.
Tried And Tested
www.nailtechsuccess.com

Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Thursday, October 8, 2009

Waktu gempa sama dgn ayat & surah dlm Quran...masyaAllah

Bismillah
Allahummasolli'alamuhammad wa'alaalimuhammad
Salamun 'alaikum


“Gempa di Padang jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di Jambi jam 8.52. Coba lihat Al-Qur’an!” demikian bunyi pesan singkat yang beredar. Siapa pun yang membuka Al-Qur’an dengan tuntunan pesan singkat tersebut akan merasa kecil di hadapan Allah Swt. Demikian ayatayat Allah Swt tersebut:

17.16 (QS. Al Israa’ ayat 16): “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

17.58 (QS. Al Israa’ ayat 58): “ Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz).”

8.52 (QS. Al Anfaal: 52): (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.”
Tiga ayat Allah Swt di atas, yang ditunjukkan tepat dalam waktu kejadian tiga gempa kemarin di Sumatera, berbicara mengenai azab Allah berupa kehancuran dan kematian, dan kaitannya dengan hidup bermewah-mewah dan kedurhakaan, dan juga dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya. Ini tentu sangat menarik.

Thursday, September 17, 2009

Siapakah Yang Mengabulkan Doa Orang Yang Terdesak ?

Ibnu Asakir berkisah tentang Abu Bakar Muhammad bin Daud Ad Dinury. Abu Bakar me-nyampaikan bahwa saat itu ia sedang menunggang bighal miliknya dari Damaskus ke daerah Az Zaidani. Di tengah jalan ada seorang pria yang hendak menumpang. Lalu aku pun me-ngarungi perjalanan bersamanya. Tiba pada persimpangan jalan yang tidak pernah aku lewati, pria itu mengatakan, "Pilihlah jalan ini, sebab ia lebih dekat!" Aku sempat menolak dengan mengatakan bahwa aku tidak pernah melewatinya. Namun ia meyakinkanku bahwa jalan ini adalah lebih dekat. Hingga kami ber-dua pun menempuhnya.

Akhirnya langkah kami berdua terhenti di tepi sebuah jurang yang dalam dan terlihat banyak sekali korban yang jatuh di dalamnya. Pria itu mengatakan, "Peganglah tali bighal ini dan izinkan aku turun sejenak untuk melihat-lihat!" Maka sejurus kemudian pria itu menuruni bibir jurang.

Tidak lama ia turun, sejenak ia muncul lagi dengan pisau terhunus di tangan dan langsung berlari mengejarku. Melihat hal itu, akupun melarikan diri darinya. Ia terus mengejarku. Sambil berlari aku bermunajat kepada Allah Swt dan aku berkata kepadanya, "Ambil saja bighal itu dan segala bekal yang ada padanya!" Ia pun berkata, "Aku sudah dapatkan bighal itu!" Aku pun bertanya lagi, "Lalu apa yang kau mau?" Ia pun berkata, "Aku mau membunuhmu!" Sempat aku takut-takuti dia dengan siksa Allah, namun masih saja ia terus mengejarku.

Hingga akhirnya aku letih dan menyerah. Aku pun berkata kepa-danya, "Jika kau sungguh ingin membunuhku, mohon izinkan aku untuk melakukan shalat dua rakaat saja!" Rupanya ia mengizinkan dan berkata, "Lakukanlah dengan segera!"...

Inilah yang dilakukan oleh orang yang shaleh. Dalam kondisi terdesak, ia masih teringat kepada Allah Swt. Sungguh langkah yang ditempuh oleh Abu Bakar adalah langkah yang tepat. Bila ia terbunuh usai menjalani shalat, maka itu merupakan sebuah akhir yang indah. Namun bila ia ditakdirkan selamat, sungguh shalat yang ia lakukan telah menjadi senjata ampuh baginya.

"Cepatlah sedikit!" perampok itu berkata kepada Abu Bakar. Abu Bakar pun berdiri untuk melakukan shalat dengan badan bergetar. Saking gemetarnya, ia lupa sama sekali dengan bacaan shalat yang harus dibaca. Perampok itu terus mengatakan, "Cepatlah...!" Hal itu terus dikatakan oleh perampok kepada Abu Bakar sebelum ia melakukan takbiratul ihram, saat ia bertakbir, dan setelah takbir dikumandangkan. Hal itu membuat Abu Bakar semakin panik hingga surat Al Fatihah pun terlupa dari ingatannya.

Abu Bakar menuturkan, "Aku hanya berdiri dalam bingung dan panik. Tidak ada satu ayat pun yang terbaca. Saat itu tiba-tiba Allah Swt menuntunku untuk membaca ayat berikut:

"Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan?" (QS. 27:62)

Sejurus kemudian aku melihat dari mulut jurang muncul seorang ksatria dengan tombak di tangan. Tombak itu ia lesakkan dan mengenai pencuri. Sungguh lemparannya tidak meleset dan terarah ke daerah jantung. Perampok itu pun roboh dan tewas. Lalu aku mendekat ke arah ksatria itu dan bertanya, 'Demi Allah, siapakah engkau?' Ksatria itu menjawab, 'Aku adalah utusan Tuhan Yang memperkenankan doa orang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya serta menghilangkan kesusahan!'

Akhirnya Abu Bakar mengambil bighal dan perbekalannya, dan ia pun kembali ke rumah dengan selamat.

Itulah kisah orang yang berdoa dalam kondisi terdesak yang termaktub dalam kitab Ba'da Ad Dhiiq Ya'ti Al Farj karya Khalid Abu Shalih. Kisah ini pun termaktub dalam tafsir Ibnu Katsir jilid 3. Ibrah yang dapat dipetik dalam kisah itu adalah bahwa dalam kondisi terdesak sekalipun, sempatkanlah untuk berhubungan dan bermunajat kepada Allah Swt. Sungguh dalam kondisi seperti itu, doa yang tersampaikan tak akan ditolak. Hal ini serupa dengan doa orang yang hendak melakukan ifthar. (Oleh : Ustad Bobby Herwibowo)

Thursday, August 20, 2009

ERTI SYUKUR


Ketika Saidina Umar al-Khattab mengerjakan tawaf, beliau terdengar doa seorang lelaki, "Ya Allah masukkanlah aku dalam kumpulan orang yang sedikit."

Terkedu juga Amirul Mukminin dengan doa yang agak ganjil itu. Biasanya manusia suka kepada kumpulan ramai. Jika pengikut ramai lagi hebat, kukuh dan gah kita tetapi lain halnya dengan lelaki ini.

Apabila ditanya, rupa-rupanya lelaki itu menjelaskan: "Tidakkah tuan membaca di dalam Al-Quran, Allah berfirman bahawa sedikit sahaja di kalangan ummatNya yang bersyukur."

Tersenyum Saidina Umar.

Sangat ramai di kalangan manusia kini sibuk berfikir bagaimana hendak memenuhi setiap impian yang diidamkan. Sebaliknya terlalu sedikit pula yang berfikir bagaimana hendak bersyukur dan berterima kasih kepada Allah dengan apa yang telah dimiliki.

Hakikatnya, dunia ini sudah dibanjiri oleh lautan manusia yang buta hati.

Tepuk dada, tanyalah diri sendiri.


Adakah kita seorang yang bersyukur?

Wednesday, August 19, 2009

AGAMA Golongan tak lalai mendambakan masjid

UMAT Islam sentiasa mencari ketenangan, kasih sayang, kesucian jasmani dan rohani di rumah Allah SWT. Masjid menjadi pilihan mereka yang mendambakan kebahagiaan hidup setelah puas dilanyak kerasnya ujian duniawi.

Dengan mengingati Allah, hati menjadi tenteram sehingga surut segala kesakitan yang diderita. Di masjid bermulanya tapak keimanan yang disemai tumbuh menjadi pohon-pohon berakar kuat, tidak mudah rebah dihempas badai kehidupan. Di masjid pula diharapkan tersedia khazanah ilmu yang boleh menjawab setiap persoalan hidup yang dihadapi setiap anak manusia.

Ketenangan hidup, kasih sayang hakiki dan kesucian rabbani sememangnya wajar menjadi moto bagi setiap masjid yang berdiri megah di tengah kekalutan dunia maksiat. Nilai itu adalah jawapan paling tepat dengan keperluan manusia moden yang hampir-hampir kehilangan nurani manusiawi.

Tetapi sayang, kadangkala dijumpai suasana yang bertolak belakang dengan semangat ketenangan, kasih sayang dan kesucian. Ada sesetengahnya yang ternoda oleh semangat perpecahan, persengketaan hingga perebutan kuasa yang memanaskan suhu masjid ke tahap yang amat membimbangkan.

Jika pada zaman sahabat terkorban di mihrab masjid Nabi, yang menumpahkan darah Umar al-Khattab sewaktu mengimami jemaah, demikian pula tragedi berdarah di masjid Kufah yang mengorbankan Saidina Ali Abu Talib maka saat ini tidak mustahil perpecahan umat Islam yang dihasilkan api permusuhan boleh mencetuskan pertumpahan darah juga.

Benarlah firman Allah SWT mengenai mahalnya harga persaudaraan yang bermaksud; “Dan Dialah (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, nescaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana.” - (Surah Al-Anfal ayat: 63)

Umat Islam di negara ini selayaknya bersyukur dengan limpah kurnia rahmat-Nya yang menyatukan hati umat Islam dalam keadaan berkasih sayang. Sunnah Rasulullah SAW yang mengajarkan selembut-lembut akhlak menjadi pegangan umat yang memakmurkan masjid dengan semangat kasih sayang. Padahal di belahan dunia Islam lain telah terjadi pertumpahan darah atas sebab fanatik mazhab seperti pembunuhan silih berganti antara penganut Syiah dan Sunni di Iraq menjadi berita hangat hampir setiap hari. Baru-baru ini Hamas yang memperjuangkan Islam dari kekejaman Israel terpaksa menghadapi musuh dalam selimut di kalangan umat Islam sendiri. Sehingga terpaksa menjaga khatib yang berkhutbah dengan senjata kerana keadaan darurat ini.

Masjid yang dibina dengan asas teladan sunnah Rasulullah SAW amat menekankan hubungan hati antara hamba dengan Allah dan juga hubungan sesama manusia. Orang yang berhimpun di dalamnya bersedia menggantungkan pakaian dunia di luar pagar masjid. Mereka menggantikan pakaian itu dengan pakaian takwa yang mampu menundukkan hawa nafsu di bawah kawalan iman sepanjang masa. Walaupun mereka keluar dari masjid dan kehidupan berubah menjadi sibuk oleh urusan dunia tidak sekali mereka dilalaikan olehnya kerana setelah keluar dari masjid pakaian taqwa kekal digunakan hasil semangat solat yang berkualiti.

Untuk memastikan fungsi masjid berjalan selari dengan sunnah Rasulullah SAW sewajarnya ahli masjid sentiasa beringat dan bermuhasabah mengenai peranan mereka dalam menghidupkan rumah Allah SWT yang suci ini.

l Memperbaharui niat.

Orang munafik di Madinah yang diketuai Abdullah bin Ubay bin Salul amat membenci perpaduan umat Islam, mereka faham mengenai kedudukan Masjid Nabi yang mampu menghimpunkan hati-hati orang mukmin sehingga kekuatan mereka semakin padu. Oleh itu mereka telah membina satu masjid yang bertujuan untuk memberi saingan kepada umat Islam, memecah belah perpaduan dan menghasut mereka untuk saling membenci sehingga terbantutlah usaha Rasulullah SAW membina kekuatan umat.

Allah SWT telah menurunkan wahyu-Nya mengenai keadaan mereka yang mempunyai niat yang keji ini sebagaimana firman-Nya yang bermaksud: “Dan (di antara orang munafik itu) ada orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang beriman. - (Surah al-Taubah ayat: 107)

Apabila hati telah berkata-kata walaupun tidak didengari orang ramai, maka siapakah yang boleh berdusta di hadapan Allah di atas kata hatinya itu? Melakukan amal salih wajib dengan niat yang ikhlas, seseorang yang suka memakmurkan masjid tetapi dengan maksud di luar niat lillahi Taala tidak akan mendatangkan kebaikan untuk agama dan dunianya.

l Masjid tempat turunnya rahmat Allah kepada orang yang berkasih sayang.

Asas berdirinya negara Islam pertama didahului dengan terbinanya masjid. Sebelum Baginda SAW memilih tapak rumahnya terlebih dulu Baginda mencari tapak untuk dibangunkan masjid. Baginda melihat kepentingan menyatukan hati umat dengan simbol masjid sebagai alat perpaduan kerana hanya Allah SWT yang berkuasa menyatukan hati manusia. Detik-detik pertama berkembangnya negara Islam pertama itu telah dihidu oleh musuh lama yang mencari peluang merosakkan kasih sayang di antara sesama muslim.

Mereka amat membenci sabda-sabda Rasulullah SAW yang mengajak kepada perpaduan umat seperti sabda baginda yang bermaksud: “Janganlah kamu saling membenci, janganlah kamu berhasad dengki, jangan belakang membelakangi, jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara.” - (Hadis riwayat Imam Al-Bukhari)

Kasih sayang adalah sunnah Rasulullah SAW, walaupun ramai yang berusaha kembali kepada Al-Quran dan al-Sunnah jarang sekali yang tidak diduga dengan konflik perbezaan fahaman akibat ketaksuban nafsu. Hatta di dalam masjid pun mereka bertelingkah kerana isu peribadi. Hal ini amat bertolak belakang dengan semangat adab dan akhlak yang diajarkan Rasulullah SAW kepada umat.

l Masjid sebagai corong dakwah.

Ahli masjid yang terpanggil memikul amanah dakwah sebagaimana yang diwarisi daripada Rasulullah SAW sentiasa mencari alternatif yang sesuai untuk mema-syarakatkan masjid di hati umat. Jika baik dan lancar fungsi dan peranan masjid yang dibina, nescaya baik pula masyarakat di sekelilingnya.

Program keilmuan yang ditawarkan hendaknya boleh menarik minat umat Islam tanpa memandang usia. Tidak sepatutnya yang memegang kuasa di setiap masjid itu mereka yang ketandusan idea dalam melancarkan program dakwah. Ahli masjid yang beramanah dituntut untuk menguasai keadaan masyarakat sekitar yang memerlukan asuhan dan bimbingan. Program media bersama masjid, remaja angkat masjid, program bimbingan belajar dan tuisyen, sukan dan seni, hiburan dan rekreasi, tempat bimbingan kewangan dan kerjaya untuk fakir miskin diharapkan boleh menyelesaikan setiap permasalahan umat.

Tidak mustahil ketenangan, kasih sayang dan kesucian jasmani dan rohani akan tercipta hasil daripada usaha gigih ahli masjid yang beramanah. Mereka adalah penyambung dakwah Rasulullah SAW yang berhak menerima balasan berlipat ganda daripada Tuhannya sekiranya mereka berjaya menjadikan semangat masjid itu wujud di tengah-tengah masyarakat yang kini kian berkecamuk.

Penulis adalah Mufti Perlis
 

blogger templates | Make Money Online